Konsep Pendidikan Umum

Konsep Pendidikan Umum

Konsep Pendidikan Umum

Makna-makna Program Pendidikan Umum berkaitan dengan pola-pola (patern) pada materi pokok instruksionalnya, pola-pola yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Pola simbolik

Dengan pola ini siswa dimbimbing untuk nantinya dapat memiliki kemampuan dalam berbahasa, membaca angka-angka, mengenal tanda-tanda hitung dan dapat menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan makna-makna yang terstruktur. Pola ini dapat dicapai dengan menganjarkan pelajaran bahasa dan matematika.

2. Pola empirik

Dengan pola ini siswa dibimbing untuk nantinya dapat memiliki kemampuan dalam mendiskripsikan fakta-fakta empiris, membuat generalisasi atau formulasi teoritis tentang gejala – gejala alam, sosial dan jiwa manusia. Pola ini dapat dipenuhi dengan mengajarkan fisika, ilmu hayat atau biologi, psikologi dan juga ilmu-ilmu sosial.

3. Pola Estetik

Dengan pola estetik ini siswa dibimbing untuk nantinya memiliki kemampuan berapresiasi dan berkreasi. Dengan demikian siswa mampu mengapresiasi berbagai objek visual yang mengandung nilai-nilai estetik dalam lingkungan kehidupannya, serta mampu berkreasi dengan memenuhi syarat-syarat estetika yang telah didalaminya. Untuk dapat mencapai tujuan dengan diterapkannya pola ini kepada siswa diajarkan tentang pengajaran seni (musik, drama, lukis, dan visual), kesusastraan dan juga filsafat.

4. Pola Synoetik

Dengan melalui pola ini siswa dibimbing untuk nantinya dapat memiliki kemampuan memandang dan menyadari keberadaan nilai-nilai secara langsung dalam arti dapat merasakan dan menyadarinya bahwa keberadaan dirinya diberi arti oleh keberadaan orang lain dilingkungannya, sehingga anak mampu menghayati tentang keberadaan hidup bersama dalam masyarakat. Pola ini dapat dipenuhi dengan mengajarkan filsafat, kesenian, pendidikan agama, dan ilmu sosial.

5. Pola Etika

Dengan pola Etika siswa dibimbing untuk nantinya memiliki kemampuan tentang moralitas, sehingga dalam hidupnya senatiasa bertindak dengan memperhatikan pertimbangan nilai, norma, etika, sopan-santun dan hukum positif yang ada dan dijunjung tinggi oleh masyarakat. Hal itu akan menjadikan pola fikir, sikap dan tindakannya bersifat etis. Pola etik dapat dipenuhi dengan memberikan etika, moral, filsafat dan Agama.

6. Pola Synoptik

Pola ini menetapkan atau menentukan terbentuknya kemampuan dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan nilai-nilai baik dan buruk pada persoalan yang dihadapinya. Dalam pola ini termasuk kemampuan meyakini dan mengimani sesuatu pandangan hidup. Pola ini dapat dicapai dengan memberikan pangajaran Agama, moral, sejarah kebudayaan dan juga filsafat.

Baca Juga :

Aliran Filsafat Idealisme

Aliran Filsafat Idealisme

Aliran Filsafat Idealisme

Menurut SK Dirjen Dikti No. 32/DJ/Kep/1983 disebutkan bahwa komponen dasar umum dalam hal ini komponen mata kuliah dasar umum (pendidikan umum) diarahkan untuk melengkapi pembentukan kepribadian bidang dengan pengembangan kehidupan pribadi yang memuaskan, keanggotan keluarga yang bahagia, dan kewargaan masyarakat yang produktif serta kewargaan Negara yang bertanggung jawab.

Dalam buku pedoman SPTK (Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan) dikatakan bahwa komponen dasar umum diarahkan kepada pembentukan warga Negara pada umumnya, dengan kompetensi, kompetensi personal, sosial serta kultural, yang seyogyanya merupakan ciri khas bagi warga negara yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Dalam SK Mendiknas No.008-E/U/1975 disebutkan bahwa Pendidikan Umum ialah pendidikan yang bersifat umum, yang wajib diikuti oleh semua siswa dan mencakup program Pendidikan Moral Pancasila yang berfungsi bagi pembinaan warga negara yang baik.

Sikun Pribadi (1981: 11) Pendidikan Umum itu mempunyai tujuan; (a) membiasakan siswa berpikir obyektif, kritis, dan terbuka, (b) memberikan pandangan tentang berbagai jenis nilai hidup, seperti kebenaran, keindahan, kebaikan; (c) menjadi manusia yang sadar akan dirinya, sebagai makhluk, sebagai manusia, dan sebagai pria dan wanita, dan sebagai warga negara; (d) mampu menghadapi tugasnya, bukan saja karena menguasai bidang profesinya, tetapi karena mampu mengadakan bimbingan dan hubungan sosial yang baik dalam lingkungannya. Philiph H. Phenix mengatakan bahwa “General Education Should Develop in Evergone” , bahwa Pendidikan Umum wajib dikembangkan pada diri tiap orang, dan pendidikan umum berarti umum untuk tiap orang. Selanjutnya “General Education is the Pracis of Engendering Esential Meaning”, bahwa Pendidikan Umum merupakan proses membina makna-makna yang esensial karena hakekat manusia adalah mahluk yang memiliki kemampuan untuk mempelajari dan menghayati makna yang esensial. Makna yang esensial sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Kemudian “to lead to fulfillment of human live through the enlangement and deeping of meaning”, jadi membimbing pemenuhan kehidupan manusia melalui perluasan dan pendalaman makna yang menjamin kehidupan, pendidikan yang bermakna kehidupan manusiawi. Selanjutnya “ acomplete person should be skilled in setu of Speach Symbol and gesture, factually well in formed, capable of treating and apprecinting object of esthetic significance, endowed with rith and dissipeined life in relation to self and athers, able to make wise decition an to judge batween right and wrong, and possessed of an integral out look”. Dengan demikian pendidikan umum membina pribadi yang utuh, terampil berbicara, menggunakan lambang dan isyarat yang secara factual di informasikan dengan baik, mampu berkreasi dan menghargai hal-hal yang secara meyakinkan estetika, ditunjang oleh kehidupan yang berharga dan penuh disiplin dalam hubungan pribadi dan pihak lain memiliki kemampuan membuat keputusan yang bijaksana dan memiliki yang benar dari yang salah, serta memiliki wawasan yang integral (memiliki kemampuan dan wawasan luas tentang kehidupan). Selanjutnya “Six Fundamental Pattern of Meaning” :

  1. Symbolics (languade, mathematics, ritual, gestures).
  2. Empirics (Science of physical world, of living thing of man).
  3. Esthetics (arts, music, literaturs)
  4. Symatics (personal knowledge relational in sight, direct awarness, feeling)
  5. Ethics (moral meaning to responsibility professional action, personal conduct an responsibility in decision marking).
  6. Synoptics ( comprehensive integrative meaning to history, relagion philosophy).

Filsafat Pendidikan

Filsafat Pendidikan

Filsafat Pendidikan

FILSAFAT dan filosof berasal dari kata Yunani “philosophia” dan “philosophos”. Menurut bentuk kata, seorang philosphos adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Sebagian lain mengatakan bahwa filsafat adalah cinta akan kebenaran. Filsafat sering pula diartikan sebagai pandangan hidup. Dalam dunia pendidikan, filsafat mempunyai peranan yang sangat besar. Karena, filsafat yang merupakan pandangan hidup iku menentukan arah dan tujuan proses pendidikan.

Oleh karena itu, filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab, pendidikan sendiri pada hakikatnya merupakan proses pewarisan nilai-nilai filsafat, yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik atau sempurna dari keadaan sebelumnya.

Dalam pendidikan diperlukan bidang filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan sendiri adalah ilmu yang mempelajari dan berusaha mengadakan penyelesaian terhadap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Jadi jika ada masalah atas pertanyaan-pertanyaan soal pendidikan yang bersifat filosofis, wewenang filsafat pendidikanlah untuk menjawab dan menyelesaikannya.

Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam masyarakatnya. Dengan demikian, muncullah filsafat pendidikan yang menjadi dasar bagaimana suatu bangsa itu berpikir, berperasaan, dan berkelakuan yang menentukan bentuk sikap hidupnya. Adapun proses pendidikan dilakukan secara terus menerus dilakukan dari generasi ke generasi secara sadar dan penuh keinsafan.

Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran sesorang atau beberapa ahli filsafat tentang sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan suatu masalah terdapat pebedaan di dalam penggunaan cara pendekatan, hal ini melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula, walaupun masalah yang dihadapi sama. Perbedaan ini dapat disebabkan pula oleh factor-faktor lain seperti latar belakangpribadi para ahli tersebut, pengaruh zaman, kondisi dan alam pikiran manusia di suatu tempat.

Ajaran filsafat yang berbeda-beda tersebut, oleh para peneliti disusun dalam suatu sistematika dengan kategori tertentu, sehingga menghasilkan klasifikasi. Dari sinilah kemudian lahir apa yang disebut aliran (sistem) suatu filsafat. Tetapi karena cara dan dasar yang dijadikan criteria dalam menetapkan klasifikasi tersebut berbeda-beda, maka klasifikasi tersebut berbeda-beda pula.

Seorang ahli bernama Brubacher membedakan aliran-aliran filsafat pendidikan sebagai: pragmatis-naturalis; rekonstruksionisme; romantis naturalis; eksistensialisme; idealisme; realisme; rasional humanisme; scholastic realisme; fasisme; komunisme; dan demokrasi. Pengklasifikasian yang dilakukan oleh Brubracher sangat teliti, hal ini dilakukan untuk menghindari adanya overlapping dari masing-masing aliran.

Sebagian ahli mengklasifikasikan aliran filsafat pendidikan ke dalam tiga kategori. Yaitu, kategori filsafat pendidikan akademik skolastik, kategori filsafat religious theistic, dan kategori filsafat pendidikan social politik. Filsafat pendidikan akademik skolastik meliputi dua kelompok yang tradisonal meliputi aliran perenialisme, esensialisme, idealisme, dan realisme, dan progresif meliputi progresivisme, rekonstruksionisme, dan eksistensialisme. Filsafat religious theistik meliputi segala macam aliran agama yang paling tidak terdiri dari empat besar agama di dunia ini, dengan segala variasi sekte-sekte agama masing-masing. Sedangkan filsafat pendidikan social politik terdiri dari humanisme, nasionalisme, sekulerisme, dan sosialisme.

Makalah ini hanya membahas masalah aliran idealisme, untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Filsafat Pendidikan. Makalah terdiri dari pengertian idealisme secara filsafat; idealisme menurut aliran filsafat pendidikan; dan tokoh-tokoh yang beraliran idealisme.

Sekolah Hijau Kota Hujan Go National

Sekolah Hijau Kota Hujan Go National

Sekolah Hijau Kota Hujan Go National

Setelah sukses memperoleh gelar Adiwiyata Tingkat Propinsi Jawa Barat tahun 2013

, kini SMPN 19 Kota Bogor, tengah melakukan penataan keindahan dan kenyamanan lingkungan di sekolahnya. Penataan ini termasuk kedalam penyusunan adminitrasi sekolah yang merupakan salah satu persaratan menuju Adiwiyata Tingkat Nasional.

Hal ini dikatakan Ketua Tim Sekolah Adiwiyata SMPN 19 Kota Bogor,

Dedy saat ditemui Metropolitan diruang kerjanya, kemarin. Menurutnya, sekolah hijau dan sehat sangat layak bagi SMPN 19 Kota Bogor. Terlebih, sudah banyak pepohonan rindang yang ada didalam lingkungan sekolah.

“Karena telah memenuhi persyaratan dari rimbunnya pepohonan, maka kami tengah menggalakan penghijauan rumput yang dihiasi dengan bunga kecil beraneka warna, yang diperoleh dari siswa dan guru,” ujar Dedy.

Sementara itu, Kepala SMPN 19 Kota Bogor, Tati Karwati mengaku, sangat mengapresiasi

serta memberikan dukungan untuk penataan lingkungan sekolah, agar terlihat lebih sejuk indah dan nyaman, yang setara dengan gelar sekolah Adiwiyata tersebut, diperoleh pada tahun 2013.

“Kami dan para pendidik lainnya serta semua siswa sangat optimis, akan mendapat gelar sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional, pasalnya sudah ditanamkan rasa memiliki dan memelihara dengan baik, agar tanaman dapat tumbuh secara alami, bahkan sekarang ditambah dengan rumput di pertamanan SMPN 19 Kota Bogor.” pungkasnya.

 

Baca Juga :

Siswa SDN Kedunghalang 1 Sering Terapkan Pendidikan Mental

Siswa SDN Kedunghalang 1 Sering Terapkan Pendidikan Mental

Siswa SDN Kedunghalang 1 Sering Terapkan Pendidikan Mental

Walaupun diguyur hujan deras, tidak menyurutkan semangat ratusan siswa Kelas IV

, V dan Kelas VI SDN Kedunghalang 1 Kota Bogor, untuk mengikuti Perkemahan Jum’at-Sabtu (Perjumsa) di halaman sekolah, Jalan Raya Talang Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara beberapa waktu lalu.

Tidak itu saja. Orangtua siswa juga ‘ikut’ begadang melihat anak-anaknya, di didik dan dibina, baik mental maupun karakter pada kegitan Perjumsa ini.

“Alhamdulillah, Perjusa ini bisa diikuti dan dilaksanakan dengan baik,

walaupun mulai sore hari hingga malam harinya, wilayah sekitar sekolah diguyur hujan deras. Bahkan, saat dimulainya acara api unggun, para peserta didik dengan antusias mengikutinya. InsyaAllah, dengan kegiatan ini, mental, kemandirian serta karakter anak didik di sekolah ini mulai dan sudah terbentuk,” harap Kepala SDN Kedunghalang 1, Siti Djubaedah, kepada Metropolitan, di sela-sela acara Perjusa.

Menurut Siti Djubaedah, Perjumsa dilaksanakan untuk melatih dan mencetak generasi yang tangguh,

serta mempererat hubungan yang harmonis antar siswa. Jadi, untuk mewujudkan hal tersebut, sekolah melaksanakan suatu kegiatan yang menantang sebagai bekal kedisiplinan dan sekaligus evaluasi latihan yang dapat membekali anggota Pramuka dalam kegiatan yang positif.

“Perjumsa ini dilaksanakan untuk membangun sikap, sesuai dengan Dwi Satya, Dwi Dharma, Tri Satya dan Dasa Dharma. Sehingga, kami harus mempersiapkan generasi muda yang cakap mental, terampil, bermoral, berahklak mulia. Sehingga nantinya mereka menjadi pelaku perubahan bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat sekitarnya. Jadi, pendidikan tidak mengharuskan siswa untuk terus menerus belajar di kelas. Namun mendorong agar siswa dapat menumbuh kembangkan karakter positifnya melalui berbagai kegiatan ko-kurikuler, ekstrakurikuler dalam pembinaan guru,” pungkasnya.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/ZnZl/history-of-heroes-day-10-november-1945

SMK Taruna Bangsa Tingkatkan Fasilitas

SMK Taruna Bangsa Tingkatkan Fasilitas

SMK Taruna Bangsa Tingkatkan Fasilitas

SMK Taruna Bangsa berencana meningkatkan sejumlah fasilitas di sekolah dalam waktu dekat.

“Iya, kita lakukan secara bertahap,” kata Kepala SMK Taruna Bangsa, Ile Putriani.

Adapun beberapa sarana dan prasarana (sarpras) fasilitas yang akan ditingkatkan yakni

pengadaan laboratorium untuk program keahlian Administrasi Perkantoran (AP) serta perangkat praktik untuk program keahlian di Teknik Kendaraan Ringan (TKR). “Ini untuk memperlancar proses belajar 350 siswa dari dua program keahlian itu,” katanya.

Dengan pemenuhan fasilitas ini, ia berharap sekolah dapat melahirkan lulusan yang dapat mengisi lapangan

pekerjaan secara profesional. Termasuk menjadi generasi bangsa yang handal dan memiliki keahlian. “Bahkan kalau bisa mereka ini (lulusan SMK Taruna Bangsa) menciptakan lapangan pekerjaan serta berprestasi diimbangi ilmu pengetahuan mumpuni dan akhlakul karimah yang baik,” harapnya.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/dNlz/history-of-the-origin-of-the-stone-black-stone

Struktur Sistem Pakar

Struktur Sistem Pakar

 

Struktur Sistem Pakar

Struktur Sistem Pakar–

Sistem pakar disusun oleh duan bagian utama yaitu lingkungan pengembangan (development environment) dan lingkungan konsultasi (consultation environment) (Turban, 1995). Lingkungan pengembangan system pakar digunakan untuk memasukkan pengetahuan pakar ke dalam lingkungan system pakar, sedangkan lingkungan konsultasi digunakan oleh pengguna yang bukan pakar guna memperoleh pengetahuan pakar. Komponen system pakar dalam kedua bagian tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :

struktur sistem pakar
Komponen yang terdapat dalam system pakar dapat dilihat pada gambar diatas. Berikut akan dijelaskan komponen tersebut.

Antarmuka Pengguna (User Interface)

User interface merupakan mekanisme yang digunakan oleh pengguna dan system pakar untuk berkomunikasi. Antarmuka menerima informasi dari pemakai dan mengubahnya ke dalam bentuk yang dapat diterima oleh system. Selain itu antarmuka menerima informasi dari system akan menyajikannya ke dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh pemakai. Menurut McLeod (1995), pada bagian ini terjadi dialog antara program dan pemakai, yang memungkinkan system pakar menerima instruksi dan informasi (input) dari pemakai, juga memberikan informasi (output) kepada pemakai.

Baca  Juga :

Akuisisi Pengetahuan pada Sistem Pakar

Akuisisi Pengetahuan pada Sistem Pakar

Akuisisi pengetahuan adalah akumulais, transfer dan transformasi keahlian dalam menyelesaikan masalah dari sumber pengetahuan ke dalam program computer. Dalam tahap ini knowledge engineer berusaha menyerap pengetahuan untuk selanjutnya ditransfer ke dalam basis pengetahuan.

Menurut Turban (1988), terdapat tiga metode utama dalam akuisisi pengetahuan yaitu :

  1. Wawancara

Wawancara adalah metode akuisisi yang paling banyak digunakan. Metode ini melibatkan pembicaraan dengan pakar secara langsung dalam suatu wawancara.

  1. Analisis protocol

Dalam metode ini pakar diminta untuk melakukan suatu pekerjaan dan mengungkapkan proses pemikirannya dengan menggunakan kata-kata. Pekerjaan tersebut direkam, dituliskan dan dianalisis.

  1. Observasi pada pekerjaan pakar

Dalam metode ini pekerjaan dalam bidang tertentu yang dilakukan pakar diobservasi.

  1. Induksi aturan dari contoh

Dalam metode ini system diberi contoh dari suatu masalah yang hasilnya telah diketahui. Setelah diberikan beberapa contoh, system induksi dapat membuat aturan yang benar untuk kasus contoh. Selanjutnya aturan dapat digunakan untuk menilai kasus lain yang hasilnya tidak diketahui.

Akuisisi pengetahuan dilakukan sepanjang proses pembangunan system. Menurut Firebaugh (1989) proses akuisisi pengetahuan dibagi ke dalam 6 tahap yaitu : Identifikasi, Konseptualisasi, Formalisasi, Implementasi, Pengujian dan Revisi Prototipe.

Dilakukan akibat menggunakan melalui IT

Dilakukan akibat menggunakan melalui IT

Dilakukan akibat menggunakan melalui IT

Di dalam menilai suatu ancaman penggunaan teknologi informasi, ancaman tersebut terus berkembang Pertahanan tahun lalu mungkin tidak akan cukup untuk melawan ancaman serangan tahun ini. Oleh karena itu, penting bagi para eksekutif untuk memiliki kesadaran akan keseriusan dari masing-masing jenis risiko keamanan TI dan bagaimana tingkat ancaman berubah.

Penilaian risiko teknologi informasi ini didasarkan pada survei terhadap lebih dari 100 propesional IT security dan manajemen risiko, yang dilakukan oleh Computer Economics pada kuartal keempat tahun 2009.

Malware: infeksi pada systemi atau jaringan oleh virus, worm Trojan, adware atau spyware.

Phising: Serangan terhadap organisasi melalui email atau elektronik dalam upaya untuk memperoleh informasi rahasia.

Pharming penyimpangan alu lintas internet ke situs penipu melalui DNS palsu atau address bar browser serangan ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi rahasia.

Spam pesan email yang tidak diminta atau tidak diinginkan.

Denial of serivice Upaya untuk mengalahkan atau membebani kinerja jaringan atau sumber daya sistem dengan maksud untuk menurunkan kinerja mereka atau bahkan membuat layanan tidak tersedia.

Akses yang tidak sah oleh pihak luar: akses yang tidak sah atau penggunaan sistem atau jaringan oleh pihak luar.

Vandalisme / sabotase: pencacatan, kehancuran atau kerusakan pada jaringan sistem organisasi atau website.

Pemerasan: Tuntutan untuk uang atau konsesi lainnya berdasarkan ancaman untuk menggunakan sarana elektronik untuk membahayakan jaringan organisasi, sistem, atau reputasi.

Penipuan transaksi: transaksi elektronik palsu yang mengakibatkan kerugian keuangan atau kerusakan pada organisasi atau pelanggan.
Kerugian fisik: fisik kehilangan atau pencurian atau komputer, media penyimpanan, atau perangkat lain yang terkait andany data.

Akses yang tidak sah oleh orang dalam: Menjalankan akses oleh orang dalam fungsi sistem atau informasi yang tidak berwenang.

Insider: pelanggaran terhadap kebijakan organisasi mengenai penggunaan komputasi / sumber daya jaringan.

Analisis hasil survei ini memberikan wawasan ke dalam bagaimana para profesional TI memandang keseriusan dari 12 kategori ancaman keamanan informasi dan bagaimana tingkat ancaman tersebut berubah. Beberapa hasil ini mendorong, tetapi beberapa mungkin menandakan adanya kesenjangan antara persepsi dan realitas.

Sebagai contoh kasus adalah sejumlah nasabah bank yang kehilngan simpanannya baru – baru ini. dikarenakan lemahnya pengawasan serta keamanan terhadap transaksi.

Sumber : https://sam-worthington.net/

Tenaga Pendidik SDN Kedunghalang 5 Dituntut Peka

Tenaga Pendidik SDN Kedunghalang 5 Dituntut Peka

Tenaga Pendidik SDN Kedunghalang 5 Dituntut Peka

Berbagai upaya terus dilakukan SDN Ke­dunghalang 5 Kota Bogor dalam menciptakan sekolah

yang aman, nyaman, ramah dan menyenang­kan bagi 365 peserta didiknya. Salah satunya yakni dengan mengajarkan tenaga pendidik untuk lebih peka terhadap ling­kungan dan apa yang terjadi di sekolah. Hal itu seperti yang di­ungkapkan Kepala SDN Kedung­halang 5, Endang Widjiarti. “Su­dah kita lakukan dari mulai se­karang,” katanya.

Tak hanya itu, pihaknya juga terus berupaya menciptakan se­kolah aman, bersih dan sehat

, peduli serta berbudaya lingkungan hidup. Bahkan, menjamin, me­menuhi, menghargai hak-hak anak dan perlindungan anak dari ke­kerasan, diskriminasi serta per­lakuan salah lainnya.

“Itu semua kita lakukan. Ter­masuk saya dan para guru terus mendukung partisipasi anak terutama

dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran, peng­awasan dan mekanisme penga­duan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak di pen­didikan,” ujarnya.

 

Baca Juga :