TEORI BELAJAR KONEKTIONISME

TEORI BELAJAR KONEKTIONISME

TEORI BELAJAR KONEKTIONISME

Belajar

Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi pelajar atau mahasiswa kata ”belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal.[1]

Pengertian Belajar

Dalam kamus bahasa Indonesia, belejar didefenisikan sebagai ; berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, dan berubah tingkah laku.[2] Ada beberapa pendapat para tokoh tentang pengertian belajar, antara lain :
Ø Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
Ø Witherington (1952): “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
Ø Crow (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.
Ø Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”.[3]
Ø James O. Whittaker : “belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.[4]
Ø Al-Rasyidin & Wahyuddin Nur Nasution : “ada 3 hal yang terkandung dalam belajar, yaitu ; belajar berkaitan dengan upaya seseorang untuk memperoleh kepandaian, belajar adalah suatu proses dimana seseorang berlatih untuk memperoleh kecakapan fisikal atau motorik agar ia terampil dalam mengerjakan sesuatu, belajar adalah suatu proses merubah tingkah laku atau tanggapan melalui interaksi dengan lingkungan.[5]
Dari pendapat-pendapat para ahli, penyusun dapat menyimpulkan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.

 

Ciri-ciri Belajar

Dari beberapa pengertian belajar yang telah di sebutkan diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Bimo Walgito (1969) mengemukakan bahwa ciri-ciri merubah perilaku seseorang, yaitu :
· Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional)
· Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu)
· Perubahan yang fungsional
· Perubahan yang bersifat positif
· Perubahan yang bersifat aktif
· Perubahan yang bersifat pemanen
· Perubahan yang bertujuan dan terarah
· Perubahan perilaku secara keseluruhan.[6]

Setiap orang (manusia) mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melakukan dua hal yang sangat penting, yakni : pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi-talenta dan bakat-bakat terbaiknya, dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial seperti “Siapakah aku?”, “Dari manakah aku datang?”, “Kemanakah aku akan pergi?”, “Apakah yang menjadi tanggung jawabku dalam hidup ini?”, dan “Kepada siapa aku harus percaya?”; kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap bakat-potensi-talenta-nya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan segala sesuatu yang “bukan dirinya”.[7]
Tugas dan tanggung jawab pertama di atas membawa setiap pribadi pada perenungan diri agar ia menyadari keberadaannya sebagai “apa” dan “siapa”.

Tugas dan tanggung jawab kedua di atas membawa manusia untuk menampilkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri. Dan “belajar” dalam konteks ini tak lain adalah mengusahakan agar tampilan diri (personalitas, kepribadian) itu mencerminkan hakikat atau jati diri (bakat, karakter) manusia itu sendiri.

Sumber Materi : https://guruips.co.id/